Open pit merupakan peninggalan pertambangan timah Kabupaten Belitung Timur yang sudah tidak beroperasi lagi sejak awal decade 1990an. Terletak di Bukit Ki Karak, Desa Senyubuk Kelapa Kampit, sekitar 60 kilometer dari Tanjung Pandan, atau sekitar 30 kilometer dari Kota manggar, ibukota Belitung Timur. Open pit sebenarnya bukan area yang ditujukan untuk berwisata. Area ini menjadi daya tarik baru karena keunikannya dan pemandangannya yang disukai oleh fotografer landscape maupun fotografer pernikahan. Open pit menjadi unik karena kawasan yang dulunya merupakan area tambang timah ini merupakan tambang dalam, bukan tambang semprot seperti kebanyakan tambang timah di Bangka Belitung. Di area Open pit ini terdapat sebuah danau besar yang letaknya dalam cekungan raksasa, serta gua beks penambangan. Danau di Open pit ini tidak terlihat dasarnya.Pantulan airnya berwarna hijau turquois. Dikelilingi oleh batuan cadas yang telah ditambang sehingga memberi tekstur yang luar biasa, kawasan ini menjadi unik dan sering menjadi lokasi pengambilan photo pre-wedding.
Di Dalam Gua (in the cave)
Kantung Semar di sekitar Ki Karak
Kolam di dalam gua (The pond inside the cave)
Kolong Open Pit yang tampak tak berdasar
Untuk menuju Open Pit memang diperlukan lebih banyak energi dan sedikit jiwa bertualang, karena lokasi tersebut belum bisa dilalui kendaraan penumpang biasa dan jalan setapak yang dilalui cenderung menanjak. Meskipun demikian, bagi penggemar hiking, ada pemandangan asyik yang bisa dinikmati, yaitu tanaman-tanaman hutan seperti pakis-pakisan, kramunting, anggrek hutan dan kantong semar yang langka. Tidak jauh dari area Open pit, terdapat peninggalan bersejarah lainnya, yaitu Stoven, menara yang sebenarnya berfungsi sebagai tungku smelter timah. Stoven di Ki Karak dibangun pada tahun 1925. Sekarang, tentu saja Stoven tidak lagi beroperasi. Catatan:Sangat tidak disarankan untuk berenang di Open pit ataupun menjelajah gua karena alasan keamanan.
SUMBER : http://www.visitbangkabelitung.com/content/open-pit-kik-karak
Pulau Lengkuas adalah salah satu primadona pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau ini merupakan satu dari ratusan pulau yang mengelilingi Pulau Belitung. Daya tarik utama di pulau ini adalah sebuah mercusuar tua yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1882. Hingga saat ini, mercusuar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.
Secara spesifik, lokasi dari Pulau Lengkuas ini berada di sebelah utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Keindahan panoramanya yang dihiasi dengan banyaknya batu granit yang unik, pasir putih dan air laut yang jernih menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung. Pulau kecil yang bisa dikelilingi dalam waktu 20 menit ini, bisa didatangi dengan perahu sewaan dari Tanjung Binga maupun Tanjung Kelayang.
Di Pulau Lengkuas, selain menikmati pemandangan pantai yang indah, biasanya pengunjung tidak akan melewatkan kesempatan menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkeling atau diving. Di depan perairan Pulau Lengkuas, terdapat spot-spot diving yang bagus, dan terdapat pula wreck indomarine. Penjaga mercusuar juga memelihara Penyu hijau.[1]
Karena Pulau Lengkuas tidak terlalu luas, untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, pengunjung disarankan untuk membawa persediaan air minum/air tawar serta selalu membawa pulang kembali sampah yang dihasilkan selama beraktivitas si Pulau, untuk di buang di tempat sampah di daratan Pulau Belitung.[1]
Pulau Lengkuas dapat dicapai dengan menyewa perahu nelayan dari beberapa tempat, yaitu Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, atau Tanjung Tinggi.
Waktu tempuh berperahu dari Tanjung Kelayang ke Pulau Lengkuas memakan waktu sekira 20 menit. Sementara itu, dibutuhkan waktu sekira 30-45 menit apabila menumpang perahu dari Tanjung Binga atau Tanjung Tinggi.
Datang ke museum ini, pengunjung akan diajak menapaktilasi perjalanan novel Laskar Pelangi. Mulai dari cuplikan halaman per halaman novel laris tersebut hingga diangkat menjadi sebuah film yang sangat laris di Indonesia.
Museum Kata Andrea Hirata terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi No.7, Gantong, Belitung Timur. Suasana yang disajikan novel Laskar Pelangi langsung terasa ketika menginjakkan kaki di halaman depan museum. Foto-foto yang dipasang di halaman museum seperti bercerita mengenai perjalanan karya sastra yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Belitung ini.
Masuk ke dalam museum dan suasana itu semakin terasa. Di ruang ini, dapat dilihat foto-foto sang penulis dengan kalimat-kalimat inspiratif. Salah satunya adalah yang bertuliskan “Bermimpilah karena Tuhan anak memeluk mimpi-mimpimu”. Selain itu, juga terdapat cuplikan dari novel yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa ini.
Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan disambut dengan sebuah ruang yang sangat nyaman, lengkap dengan meja beserta buku-buku yang dibiarkan berserakan di atas meja. Di ruangan ini, juga dipajang foto-foto adegan film Laskar Pelangi. Cover-cover Laskar Pelangi yang diterbitkan di berbagai negara juga menghiasi dinding ruang ini.
Ruang utama ini menjadi penghubung ke ruang-ruang yang diberi nama berdasar nama-nama tokoh dalam Laskar Pelangi. Ruang pertama adalah Ruang Ikal. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat cuplikan novel yang menggambarkan sosok Ikal. Foto adegan ketika Ikal berpisah dengan Lintang pun menjadi pemandangan yang menarik di ruang ini. Foto ini diambil dari film yang disutradarai Riri Reza.
Di sebelah Ruang Ikal, terdapat Ruang Lintang. Lintang merupakan sosok cerdas yang dibanggakan teman-temannya. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat foto-foto tokoh Lintang yang diambil dari film Laskar Pelangi. Di antaranya adalah foto Lintang dengan sepeda kesayangannya dan foto Lintang saat berboncengan dengan Ikal.
Selain itu, terdapat satu ruang lain yang letaknya agak terpisah dengan Ruang Lintas dan Ruang Ikal. Ruang tersebut adalah Ruang Mahar. Mahar dikenal sebagai sosok nyentrik yang menyukai berbagai bentuk kesenian. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat foto-foto seniman yang menjadi inspirasi Mahar, salah satunya adalah Rhoma Irama.
Setelah melewati ruang Mahar, pengunjung akan sampai ke Ruang Dapur. Di ruang ini, pengunjung akan melihat sebuah dapur yang diubah menjadi warung kopi. Warkop Kopi Kuli, begitulah papan yang ditempel pada dinding di ruang ini. Di sini, pengunjung dapat memesan kopi sebagai teman bersantai atau berbincang-bincang menikmati suasana museum.
Museum ini didirikan oleh sang penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Untuk masuk ke museum yang diresmikan pada Bulan November 2012 ini, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk.
Museum Kata Andrea Hirata menjadi museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia. Berkunjung ke museum ini bisa membuat pengunjung mengenal bagaimana karya sastra menjadi bagian penting bagi kehidupan. Dari museum ini, pengunjung bisa mendapatkan inspirasi untuk lebih mencintai karya sastra, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri. [Tauhid/IndonesiaKaya]
SUMBER : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/museum-kata-andrea-hirata
Tanjung tinggi adalah pantai yang diapit oleh dua semenanjung, yaitu tanjung Kelayang dan tanjung Pendam. Nama tanjung tinggi diambil dari kata tanjung yang artinya semenanjung dan tinggi yang artinya pantai yang memiliki bebatuan yang tinggi. Pantai Tanjung Tinggi merupakan salah satu tempat wisata di pulau Belitung. Letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Kelayang dan berjarak sekitar 31 km dari kotaTanjung Pandan. Pantai ini memiliki area seluas 80 hektar, berpasir putih, dan terdapat ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung dan juga di laut di depan pantai. Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah, sehingga menjadi tempat wisata ungulan di Pulau Belitung. Tanjung tinggi juga dinamakan Pelabuhan Bilik.[1] Dahulu tempat ini adalah pelabuhan nelayan bagi desa terdekat Keciput atau Tanjung Tinggi.[1] Di pantai ini tidak perlu khawatir dengan serangan ikan hiu, karena tidak pernah terjadi di Belitung. Satu-satunya yang kadang-kadang harus diwaspadai adalah ubur-ubur, khususnya yang besar. Fasilitas lain di Pantai Tanjung Tinggi ini lumayan memadai.[1] Karena tidak jauh dari lokasi pantai terdapat hotel bagi anda yang ingin menginap.[1] Selain itu disana juga terdapat warung-warung yang menyediakan berbagai macam makanan seafood.[1]
Pantai ini berbentuk lekukan busur derajat yang dengan diameter kira-kira 100 m dengan susunan batu-batu granit yang ada di dua sisi pantai. Di sepanjang pantai kita akan melihat panorama pemandangan yang mengesankan dan unik dari pantai – pantai yang ada. Pasirnya putih dan airnya jernih, kita dapat berenang di karenakan kecilnya gelombang dan lambatnya arus air laut, tapi yang lebih menarik adalah sedikitnya perbedaan antara pasang naik dengan pasang surut.
Keistimewaan dari pantai ini adalah batu granit yang beraneka ragam ukurannya, dari yang hanya beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik.[1] Saat matahari mulai terbenam pantai tanjung tinggi akan memancarkan pesona kecantikaannya yang luar biasa.[1] Dengan keindahan pantai yang memiliki khas tersendiri sehingga membuat pantai tanjung tinggi banyak dikenal oleh para wisatawan luar daerah maupun luar negeri.[1] Pantai Tanjung Tinggi ini pernah dijadikan lokasi shutingfilm Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, jadi tak jarang para wisatawan luar menyebut pantai tanjung tinggi ini dengan sebutan pantai Laskar Pelangi.[1]
Jika kita baru melihat kondisi underwater di Pantai Tanjung Tinggi, kita akan disambut oleh ratusan hingga ribuan ikanAtherinomorus sp yang berkelompok membentuk formasi yang artistik (schooling).[1] Setelah itu kita akan menjumpai lapisan lamun yang didominasi oleh jenis Cymadocea, ditemukan pula jenis Thalassia dan jenis lamun Halophilla namun jumlahnya sangat sedikit.[1] Terlihat lapisan makroalga yang didominasi oleh Padina dan Sargasum.[1] Kadang dijumpai pula jenis makroalga Tubinaria.[1]
Semakin kearah tengah dan perairan lebih dalam, kita baru menjumpai karang massif kemudian baru diikuti oleh jenis terumbu karang lainnya.[1] Ketika melihat karang di kawasan pantai ini, kita akan langsung mengerti bahwa sebenarnya terumbu karang di pantai ini kondisinya tidak sehat.[1] Hal ini karena karang tersebut terbuka atau kering saat air laut surut rendah.[1] Ini dapat dilihat pada lapisan karang bagian paling dekat dengan permukaan tampak mati dan kemudian tertutup oleh makroalga dan mikroalga.[1] Kecuali pada bagian yang lebih dalam, kondisi karangnya lebih baik dan beragam.[1] Namun, lapisan terumbu karang dipantai ini tidak panjang dan luas sehingga karang yang terlihat hanya sedikit.[1]Tampak terdapat karang Acropora branching, karang Acropora tumbulate, foliose, mushroom dan karang massif.[1] Selain itu ditemui pula jenis akar bahar dan softcoral namun jumlahnya sangat sedikit.[1]
SUMBER : https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Tanjung_Tinggi
Pantai ini memiliki puluhan batu granit raksasa, yang bentuknya sangat mirip dengan kepala burung garuda.[2] Menurut cerita rakyat setempat, batu tersebut dipercaya memiliki kekuatan mistis. Nama “Kelayang” bisa dikatakan merupakan nama yang diambil dari salah satu jenis burung yang terdapat di pantai ini.
Pada tanggal 15 Maret2016, Tanjung Kelayang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2016, dengan kegiatan utama di bidang pariwisata. KEK Tanjung Kelayang dengan lahan seluas 324,4 hektare merupakan KEK ke-9 yang ditetapkan pemerintah sampai tahun 2016.[3]
5 Tradisi Unik dan Menarik yang Bisa Anda Saksikan di Belitung Saat Berlibur
Masyarakat Indonesia yang punya jejak leluhur yang panjang memang kemudian menghadirkan beberapa tradisi. Sebagai sebuah tradisi maka ada rutinitas yang dilakukan masyarakat setempat untuk menjaga kelestariannya. Di negeri Laskar Pelani Belitung, kita juga bisa menjumpai beberapa tradisi dari leluhur yang masih dilestarikan sampai sekarang. Beberapa tradisi yang ada di Belitung ini sendiri terbilang unik dan menarik untuk disaksikan. Dari adanya beberapa tradisi unik dan menarik tersebut, maka Anda yang sedang berlibur ke Belitung bisa menjadikannya sebagai sebuah tontonan sehingga membuat kesan yang bermakna. Nah berikut ini adalah beberapa tradisi unik dan menarik yang sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja.
Pertama, tradisi unik dan menarik yang bisa kita saksikan di Belitung adalah Bedulang atau ada yang menyebut Nganggung. Bedulang sendiri merupakan tradisi makan bersama di Belitung yang sudah mengakar sejak lama. Pada mulanya Bedulang adalah tradisi makan berasama di keluarga Belitung dimana sang ibu dan anak yang menunggu ayah untuk makan bersama setelag selesai bekerja menambang timah. Namun seiring waktu, tradisi Bedulang ini sedikit bergeser. Jadi sekarang Bedulang dilakukan pada orang-orang tertentu dan juga pada acara-acara tertentu seperti acara adat atau acara besar keagamaan. Dalam tradisi makan Bedulang ini ada beberapa hal yang menjadi ciri khas seperti sebuah tudung saji yang biasanya berwarna merah dan juga pastinya kebersamaan. Dalam Bedulang ini memang kegiatan makan ini dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang yang duduk lesehan dan saling berhadap-hadapan. Nah makanan berupa nasi dan lauk pauk yang akan dimakan ini akan ditutup sebuah tudung saji yang umumnya berwarna merah. Ciri khas lain yang bisa dikenali dari tradisi Bedulang ini adalah saat akan menyantapnya. Jadi dalam Bedulang, yang membuka tudung saji ini harus orang yang paling tua. Sementara itu yang mengambil makanan adalah orang yang paling muda sebagai wujud penghormatan kepada yang tua. Dalam bedulang ini biasanya ada 6 piring yang terdapat berbagai lauk pauk di mana di tengahnya ada mangkuk berisi makanan berkuah. Untuk jenis atau menu makanan yang disajikan dalam Bedulang ini berbeda-beda tergantung tempatnya. Dan dalam satu paket nasi bedulung ini biasanya bisa disantap untuk 4 orang.
Bila pada masyarakat Betawi di Jakarta ada tradisi berbalas pantun bernama Palang Pintu, maka di Belitung kita mengenal tradisi Berebut Lawang. Masyarakat Belitung yang juga termasuk ke dalam rumpun Melayu memang sudah akrab dengan pantun. Nah dari sini maka kemudian muncul tradisi Berebut Lawang. Tradisi Berebut Lawang ini sendiri hampir sama dengan Palang Pintu yang hadir diacara hajatan pernikahan. Jadi ketika rombongan pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita, maka sebelum masuk ke rumah calon istri maka pihak perwakilan mempelai laki-laki harus beradu pantun dengan pihak mempelai wanita. Bedanya dengan Palang Pintu, dalam Berebut Lawang, perwakilan pengantin pria ini diharuskan untuk beradu pantun sebanyak tiga kali. Adu pantun pertama, perwakilan pengantin pria melakukannya di halaman rumah sang calon istri. Untuk pantun pertama ini sendiri haruslah yang berisi pengenalan calon suami dan keluarganya ke pihak calon istri. Setelah lolos, perwakilan pengantin pria kembali harus beradu pantun di pos kedua tepat di depan pintu masuk rumah mempelai perempuan. Di pos kedua ini adu pantun yang dilancarkan adalah pantun yang berisi ucapan salam pada pemilik rumah. Tantangan adu pantun ketiga kembali harus dihadapi rombongan mempelai pria saat berada di depan kamar pengantin wanita. Tidak hanya berpantun, pada setiap pos adu pantun yang dilewati, pihak rombongan pria juga diharuskan memberikan ‘uang perayu’ untuk kelancaran jalannya pernikahan.
Berikutnya, tradisi unik dan menarik yang bisa kita jumpai di Belitung adalah Betiong. Betiong sendiri adalah cara menyampaikan syair melayu yang bercerita tentang masa lalu dan diiringi dengan musik tradisional. Beberapa alat musik tradisional yang digunakan untuk melakukan Betiong ini adalah empat buah gendang, tawak-tawak dan piul (biola). Seni bersyair yang mirip dengan begambus ini umumnya dilakukan pada masa perayaan hasil panen atau acara-acara adat selama semalaman.
Bila Anda suka mendatangi pantai di Belitung, maka jangan lewatkan tradisi Buang Jong. Jong sendiri memiliki arti kapal kecil, sedangkan buang artinya membuang ke laut. Dari sini maka bisa dinyatakan bahwa Buang Jong ini merupakan tradisi larung laut dengan membuang jong atau perahu kecil ke lautan. Tradisi yang pertama kali dilakukan Suku Sawang yang hidup di lautan ini memang kemudian mengakar pada masyarakat Belitung, terutama yang tinggal di kawasan pantai. Dalam jong atau perahu kecil ini ada beberapa sesaji yang telah diberi doa dan tertutup oleh sebuah ancak (kerangka bambu berbentuk rumah). Tradisi Buang Jong sendiri dilakukan dalam rangka meminta keselamtan, perlindungan serta keberkahan ketika melaut dan mencari ikan. Untuk bisa menyaksikan Buang Jong, Anda bisa datang ke Belitung antara bulan Agustus hingga November. Antara bulan-bulan tersebut ketika bertiup angin musim Barat maka bila beruntung Anda akan mendapati Festival Buang Jong yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah setempat. Karena biasanya Festival Buang Jong ini digelar di Pantai Mudong, maka untuk bisa menyaksikannya Anda harus pergi ke pantai tersebut. Secara keseluruhan, tradisi Buang Jong ini akan dilaksanakan selama waktu 3 hari 3 malam. Nantinya setelah puncak Buang Jong berupa larung laut ini dilakukan maka selama tiga hari ke depan maka nelayan dilarang untuk melaut terlebih dahulu.
Terakhir, tradisi pada masyarakat Belitung yang unik dan menarik untuk disaksikan adalah Betare. Betare adalah sebuah tuntunan adat di Belitung untuk meminta restu atau izin. Betare sendiri dilakukan pada orang yang dituakan atau memiliki kewenangan seperti kepala kampung, kepala keluarga atau juga kepala suku dan lainnya. Dengan melakukan Betare maka seseorang dianggap telah berlaku patuh dan adab serta bermartabat. Namun bila Betare ini tidak dilakukan maka membuat seseorang dianggap tidak beradab dan kurang bermartabat. Setelah Betare ini dilakukan, maka orang yang dituakan tadi akan memberikan restu dan do’anya kepada orang yang memintanya. Tak jarang orang yang dituakan tadi juga akan memberikan pesan atau nasehat. Tujuan dari tradisi Betare yang sudah dilakukan secara turun-temurun ini sendiri adalah sebagai sikap hormat dan menghormati. Tidak hanya menjaga hubungan sesama manusia, ternyata Betare ini juga berkaitan dengan makhluk dan alam lain serta spiritualitas kepada sang pencipta. Begitu pentingnya Betare dalam tradisi masyarakat Belitung ini membuat siapa yang melanggarnya maka diyakini akan ada musibah tak terduga (tekenak balak). Dan keyakinan ini ternyata masih terus dipahami oleh masyarakat Belitung secara turun-temurun.
SUMBER : https://www.belitungisland.com/new/_newsdetail.php?id_ltupdate=173
Pastinya kurang lengkap jika mengunjungi kawasan Belitung yang kaya akan berbagai objek wisata pantai, dan tidak ada makanan khas Belitung yang kaya akan rasa. Berikut ini ada 11 kuliner khas Belitung yang dapat Anda konsumsi sekaligus dapat dijadikan oleh-oleh.
1. Mie Belitung
ricolie87.wordpress.com
Mie Belitung adalah makanan khas Belitung yang akan dibahas. Untuk Anda yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Belitung, Maka Anda harus mencoba yang yang ini. Bahan mie yang diguankan sama sama saja, yaitu mie kuning, namun kuah yang berbeda dengan kuah yang ada di kawasan lainnya. Kuah mie Belitung ini menggunakan kuah kaldu yang terbuat dari olahan udang, dan campuran bumbu lainnya, seperti bawang merah, bawang putih, merica, jahe, dan beberapa jenis bumbu lainnya. Dalam 1 porsi mie Belitung, Anda akan memesan mie kuning, rebus kentang, udang, taburan emping dan timun. Makanan ini paling enak dikonsumi ketika sedang panas.
2. Sup Gangan
traveltodayindonesia.com
Sup gangan ini adalah makanan khas Belitung lainnya. Makanan berkuah ini, berasal dari aneka olahan laut, bahan utama untuk membuat makanan yang satu ini adalah ikan tenggiri yang masih segar. Ikan tersebut, kemudian dimasak dengan berbagai macam rempah, seperti daging putih, kunyit, lengkuas, dan aneka bumbu lainnya. Teknik pengolahan yang pas, membuat kuliner ini tidak menguntungkan amis. Untuk cita rasa, kuliner yang ini memiliki rasa asam, pedas dan juga gurih. Ini adalah salah satu kuliner yang paling berhasil oleh masyarakat babel.
3. Berego
febriaming.blogspot.com
Kuliner yang bernama Berego ini bentuknya mirip dengan lontong, namun yang membedakan adalah bahan bakunya. Jika lontong menggunakan beras yang diaron dan dibungkus menggunakan daun pisang. Maka Berego terbuat dari tepung beras, yang bercampur dengan tepung sagu.
Untuk penyajian dan cara mengkonsumsi Berego ini tidak jauh berebda dengan lontong. Dimana Berego ini memotong kecil, atau dipotong bulat, kemudian disiram menggunakan lauk yang berkuah. Khusus untuk Berego, sayur berkuah yang biasa digunakan adalah gangan, lakse atau juga mie Belitong. Penganan yang satu ini tidak sulit untuk dicari, karena banyak dijajakan di pinggir jalan.
4. Suto Belitung
blog.misteraladin.com
Setelah itu sepintas, kuliner yang satu ini mirip dengan ketupat sayur, namun rasa dari kedua kuliner ini tentu jauh berbeda. Suto Belitung ini terdiri atas irisan lontong, irisan daging yang empuk, bihun, dan juga kerupuk melinjo. Untuk kuah, mie yang satu ini sangat populer. Kuah tersebut terbuat dari rebusan kari iga sapi yang dicampur dengan santan kelapa, dan juga irisan daging. Warna kuahnya yang kuning dan rasanya yang beragam, membuat kuliner yang satu ini sayang jika dilewatkan begitu saja. Untuk menikmati kudapan yang satu ini, tidak sulit, Anda dapat mencoba beberapa warung suto yang ada di kawasan Belitung.
5. Sambal Rusip
ksmtour.com
Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki jenis sambal yang berbeda-beda, mulai dari sambal hijau khas Jawa barat, dabu-dabu khas papua, dl. Belitung pun demikian, adalah sambal rusip, yang biasanya dihidangkan sebagai penggugah selera makan masyarakat Bangka Belitung.
Sambal Rusip ini terdiri dari ikan yang telah difermentasikan terlebih dahulu, bersama gula merah dan juga garam, selama kurang lebih 7 hari. Saat ikan sudah mengeluarkan aroma asam, maka itu fermentasi selesai. Ikan tersebut kemudian dicampur dengan cabai, jeruk kunci, dan juga bawang merah. Untuk rasa rasa, aroma dan rasa yang sangat khas, kuliner saat ini adalah sayur bersama, mentimun atau selada.
6. Belacan Belitung
mobil-sewa.com
Belacan Belitung ini juga kerap dijadikan sebagao oleh-oleh khas Belitung. Belacan sendiri terbuat dari udang rebon yang masih baru, kemudian difermentasikan. Teknik ini mirip dengan terasi udang dari kota cirebon. Kuliner yang ini biasanya digunkan sebagai bumbu tambahan atau penyedap tambahan untuk beberap jenis makanan tertentu, yang biasanya berbahan sambal. Aroma yang dihasilkan oleh Belacan ini memang cukup khas, yaitu hasil fermentasi laut. Olahan yang satu ini banyak diperoleh dari kawasan Sijuk atau desa Sijok. Anda yang ingin membeli oleh-oleh khas Belitung, tidak ada salahnya jika membeli kuliner yang satu ini.
7. Mie koba
almiragittah.wordpress.com
Mie lain yang juga ada di Bangka Belitung selain Mie Belitung adalah mie Koba. Mie yang satu ini tidak kalah enak dengan mie yang ada di kota Belitung. Mie yang Anda lakukan di kawasan Belitung Tengah. Yang unik dari mie yang adalah ini adalah ikan tenggiri pada sajian mie tersebut.
Bahan pelengkap lain selain ikan tenggiri, adalah seledri, telur, dan juga bawang goreng. Kuah yang digunakan untuk mie Koba ini juga berbeda dengan mie Belitung. Kuah yang biasa pada mie Koba ini adalah kaldu dari ikan tenggiri.
8. Siput gong gong
zonabangkabelitung.blogspot.com
Bangka Belitung ini kaya akan kudapan laut, dan salah satu kuliner yang tidak bisa Anda gunakan untuk kamar ini adalah siput gong gong. Siput yang satu ini berbeda dengan jenis siput lainnya, karena jenis siput yang satu ini berasal dari laut. Kuliner yang satu ini akan mudah Anda temui di kawasan Tanjung Pinang. Ada banyak sekali tempat yang menjajakan kuliner yang satu ini.
Penduduk lokal Babel sangat mirip kuliner yang satu ini, di mana siput ini diolah dengan cara direbus, kemudian dihidangkan bersama sambal sambal. Cara mengkonsumsi siput ini cukup mudah, keluarkan siput tersebut, Anda dapat menggunakan tusuk gigi, kemudian oleskan pada kuah sambal yang ada. Rasanya tentu akan lebih nikmat. Selain direbus, siput Gong gong ini juga biasanya digoreng.
9. Pantiaw
ayusiti43.blogspot.com
Bentuk makanan ini memang mirip kwetiaw, selain itu juga mirip. Yang membedakan kedua jenis kuliner tersebut, adalah teknik penyajiannya. Di kawasan Bangka Belitung ini ada 2 jenis pantiaw, yaitu yang terbuat dari tepung besas, dan yang terbuat dari tepung gandum. Warna dari mie ini sendiri adalah putih dan gepeng, namun dengan tekstur kenyal. Cara mengkonsumsi kuliner yang satu ini adalah dengan melatih bumbu di atas tumpukan mie. Bumbu ini biasanya terbuat dari ikan yang digiling.
10. Sambal lingkung
facebook.com/INIResepku
Sambal Lingkung adalah jenis sambal lain yang ada di Bangka Belitung selain Sambal Rusip. Bentuk sambal lingkung tersebut berbeda dengan sambal pada umumnya, penampilannya lebih mirip dengan abon. Bahan utama untuk membuat sambal Lingkung ini adalah ikan dan juga udang yang masih segar. Jenis ikan yang tersedia adalah ikan tenggiri. Ikan tersebut, diolah kemudian dihaluskan menjadi serbuk halus, dan berwarna kecoklatan. Kuliner ini paling pas jika disantap bersama nasi dan hidangan lainnya.
11. Lempah darat
pinterest.dk/Rynyulian/
Salah satu jenis sayur yang khas dari kota Bangka Belitung yang tidak bisa Anda HUBUNGI adalah sayur Lempah darat. Lempah darat ini berbeda dengan lempah kuning, yang biasanya menggunakan bahan dasar laut. Khusus untuk sayur lempah darat ini menggunakan berbagai bahan dari perkebunan.
Adapun bahan-bahan yang digunkan untuk membuat sayur ini adalah pepaya muda, pucuk idat, akar keladi, dan beberapa sayur muda lainnya. Sayur yang satu ini paling pas jika digunakan bersama nasi hangt, dan juga sambal terasi.
SUMBER : https://www.gotravelly.com/blog/makanan-khas-belitung/
Selain kaya akan keindahan pesona alamnya, Pulau Belitung juga memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang begitu menarik, berbagai adat istiadat, tarian tradisional. Tidak mengherankan, dengan segala daya pikat tersebut menjadikan para turis, baik lokal maupun internasional tak pernah bosan mengunjungi kepulauan ini.Suku Bangsa Sebagian besar penduduk belitung adalah suku Melayu, yang merupakan penduduk asli pulau ini. Komunitas orang melayu yang tinggal di kampung-kampung yang jauh dari kota disebut Orang Darat. Di laut dan pesisir Pulau Belitung juga terdapat penduduk asli yang disebut Urang Laut dan Urang Juru. Orang Laut belitung disebut Suku Sekak atau Suku Sawang, yang hidup nomaden di sepanjang perairan bangka belitung. Mereka diperkirakan berasal dari Riau / Lingga, sedangkan Urang Juru yang jumlahnya lebih kecil, diduga berasal dari kepulauan Sulu / Mindanao. Urang Juru lebih membaur dengan orang Melayu sehingga Istilah Urang Juru sudah kurang dikenal saat ini. Disamping itu terdapat etnis Tionghoa yang umumnya merupakan keturunan imigran-imigran China yang masuk ke Belitung pada masa kolonial Belanda. Keragaman suku bangsa di Belitung juga dibentuk oleh kedatanagn Suku Jawa, Bugis, Madura, Bawean, Buton, Ambon, Batak, Bali, dan berbagai suku lainnya pada masa-masa kemudian.
BAHASA
Bahasa ibu (Lingua Franca) yang digunakan di Pulau Belitung adalah Bahasa Melayu Belitong, dengan dialek / aksen yang berbeda antara Urang Darat dan Melayu Pesisir. Bahasa melayu yang lebih tua (diduga) adalah bahasa yang dipergunakan dalam pertunjukan Dul Mulok. Teater tradisional ini kini hanya terdapat di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong.
KESENIAN TRADISIONAL
Kesenian Tradisional Belitung meliputi antara lain seni musik, seni tari, sastra tutur, dan teater rakyat, antara lain :
BEGAMBUSBiasanya ditampilkan dalam berbagai acara kesenian rakyat dan selamatan di Belitung. Kesenian ini sangat bernuansa Islami, dimana syair-syair berisi petuah dinyanyikan seiring alunan gambus.
BEGUBANGBegubang kesenian Melayu Belitong yang umumnya ditampilkan dalam suatu upacara atau syukuran dengan 2 atau 3 orang lelaki melantunkan pantun nasehat yang saling berkaitan satu.
BEREBUT LAWANGJika masyarakat Betawi memiliki tradisi palang pintu, masyarakat Belitung pun memiliki satu tradisi beradu pantun yang biasa disebut berebut lawang. Sama seperti palang pintu, dalam.
BERIPAT BEREGONGBeripat Beregong merupakan Sejenis pemainan adu ketangkasan dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukul. Masing-masing pemain mengandalkan kemampuan menangkis dan memukul punggung lawan. Yang menjadi pemenangnya
BETIONGMerupakan musik tradisional yang menampilkan atraksi saling berbalas pantun dari para pemainnya, dengan alat musik berupa 4 buah gendang, tawak-tawak dan piul (biola). Ciri khas.
DUL MULOKDul Mulok merupakan sebuah drama tradisional berbahasa melayu. Drama tradisional ini akan membawakan cerita rakyat setempat dengan iringan alat musik gendang dan biola. Syair cerita.
IDENTIFIKASI RUMAH ADAT BELITUNGMengacu pada latar belakang tersebut diatas, rumah seringkali dijadikan media atau symbol atau identitas yang berkembang di dalam masyarakat. Sebagaimana perkembangan sebuah wilayah menjadi sebuah
LESONG PANJANGLesong panjang biasanya dimainkan pada saat musim panen padi tiba. Alat utamanya adalah sebuah lesung yang terbuat dari kayu pilihan yang bersuara keras dan jernih.
MARAS TAHUNMaras Taun berasal dari kata “maras” yang berarti “meniris ( membersihkan duri halus) dan “taun” berasal dari kata “tahun”. Maras Taun diadakan setiap setahun sekali
MUANG JONGMuang Jong berarti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan…
NIROK NANGGOKNirok Nanggok adalah wujud kearifan lokal masyarakat Belitung ekosistem sungai. Ritual ini merupakan acara menangkap ikan secara masal di Lemong Titi Jemang, Desa Kembiri, Kecamatan
STAMBUL FAJARAdalah sejenis musik keroncong berirama stambul dengan pengaruh budaya islam yang kental. Biasanya dimainkan pada malam hari hingga terbit fajar menjelang acara perayaan pernikahan. Alat….
TARI CAMPAKTari campak di Belitung ini ada 2 macam yaitu Campak Darat dan Campak Laut. Tarian ini adalah tari khas masyarakat belitung dari suku sawang yang…TARI MENDULANG TIMAHSatu persatu anak berlari ke tanah lapang dengan seluruh badan dilumuri lumpur. Mereka membawa dulang dan melakukan gerakan-gerakan seperti sedang melakukan aktivitas mendulang timah. Suasana…
TARI SEKAPUR SIRIHTari sekapur sirih adalah salah satu tarian selamat datang yang berasal dari Belitung. Dalam tarian ini, penari membawa sebuah wadah yang berisi sirih sebagai tanda…
TARI SEPENTari Sepen adalah tarian tradisional masyarakat kepulauan Belitung yang di dalamnya terdapat unsur gerakan pencak silat. Tarian ini merupakan tari tradisional dari daerah Bangka Belitung…
TRADISI MAKAN BEDULANGMakan Bedulang adalah prosesi makan bersama yang dilakukan menurut Adat Belitong dengan tata cara dan etika tertentu. satu dulang diperuntukan bagi empat orang yang duduk…
SUMBER : http://www.belitunginfo.com/belitung/kebudayaan-masyarakat-belitung/
Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang bagian kota New York). Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.
Sebagian besar penduduknya, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda.
Penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.
Secara geografis pulau Belitung (Melayu ; Belitong) terletak pada 107°31,5′ – 108°18′ Bujur Timur dan 2°31,5′-3°6,5′ Lintang Selatan. Secara keseluruhan luas pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha.Pulau Belitung disebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan selat Karimata, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan selat Gaspar. Di sekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil seperti Pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain.
Belitung merupakan kepulauan yang mengalami beberapa pemerintahan raja-raja. Pada akhir abad ke-7, Belitung tercatat sebagai wilayah Kerajaan Sriwijaya, kemudian ketika Kerajaan Majapahit mulai berjaya pada tahun 1365, pulau ini menjadi salah satu benteng pertahanan laut kerajaan tersebut. Baru pada abad ke-15, Belitung mendapat hak-hak pemerintahannya. Tetapi itupun tidak lama, karena ketika Palembang diperintah oleh Cakradiningrat II, pulau ini segera menjadi taklukan Palembang.[1]
Sejak abad ke-15 di Belitung telah berdiri sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Badau dengan Datuk Mayang Geresik sebagai raja pertama. Pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Pelulusan sekarang ini. Wilayah kekuasaaannya meliputi daerah Badau, Ibul, Bange, Bentaian, Simpang Tiga, hingga ke Buding, Manggar dan Gantung. Beberapa peninggalan sejarah yang menunjukkan sisa-sisa kerajaan Badau, berupa tombak berlok 13, keris, pedang, gong, kelinang, dan garu rasul. Peninggalan-peninggalan tersebut dapat ditemui di Museum Badau.[1]
Kerajaan kedua adalah Kerajaan Balok. Raja pertamanya berasal dari keturunan bangsawaan Jawa dari Kerajaan Mataram Islam bernama Kiai Agus Masud atau Kiai Agus Gedeh Ja’kub, yang bergelar Depati Cakraningrat I dan memerintah dari tahun 1618-1661. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Kiai Agus Mending atau Depati Cakraningrat II (1661-1696), yang memindahkan pusat kerajaan dari Balok Lama ke suatu daerah yang kemudian dikenal dengan nama Balok Baru. Selanjutnya pemerintahan dipegang oleh Kiai Agus Gending yang bergelar Depati Cakraningrat III.[1]
Pada masa pemerintahan Depati Cakraningrat III ini, Belitung dibagi menjadi 4 Ngabehi, yaitu :
Ngabehi Badau dengan gelar Ngabehi Tanah Juda atau Singa Juda;
Ngabehi Sijuk dengan gelar Ngabehi Mangsa Juda atau Krama Juda;
Ngabehi Buding dengan gelar Ngabehi Istana Juda;
Ngabehi Belantu dengan gelar Ngabehi Sura Juda.
Masing-masing Ngabehi ini pada akhirnya menurunkan raja-raja yang seterusnya lepas dari Kerajaan Balok. Pada tahun 1700 Depati Cakraningrat III wafat lalu digantikan oleh Kiai Agus Bustam (Depati Cakraningrat IV). Pada masa pemerintahan Depati Cakraningrat IV ini, agama Islam mulai tersebar di Pulau Belitung.
Gelar Depati Cakraningrat hanya dipakai sampai dengan raja Balok yang ke-9, yaitu Kiai Agus Mohammad Saleh (bergelar Depati Cakraningrat IX), karena pada tahun 1873 gelar tersebut dihapus oleh Pemerintah Belanda. Keturunan raja Balok selanjutnya yaitu Kiai Agus Endek (memerintah 1879-1890) berpangkat sebagai Kepala Distrik Belitung dan berkedudukan di Tanjungpandan.
Kerajaan ketiga adalah Kerajaan Belantu, yang merupakan bagian wilayah Ngabehi Kerajaan Balok. Rajanya yang pertama adalah Datuk Ahmad (1705-1741), yang bergelar Datuk Mempawah. Sedangkan rajanya yang terakhir bernama KA. Umar.
Kerajaan keempat atau yang terakhir yang pernah berdiri adalah Kerajaan Buding, yang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Balok. Rajanya bernama Datuk Kemiring Wali Raib. Dari keempat kerajaan yang telah disebutkan diatas, Kerajaan Balok merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Pulau Belitung.[1]
Pada abad ke-17, Pulau Belitung menjadi jalur perdagangan dan tempat persinggahan kaum pedagang. Dari sekian banyak pedagang, yang paling berpengaruh adalah pedagang Cina dan Arab. Hal ini dapat dibuktikan dari tembikar-tembikar yang berasal dari Wangsa Ming abad ke-14 hingga ke-17, yang banyak ditemukan dalam lapisan-lapisan tambang timah di daerah Kepenai, Buding, dan Kelapa Kampit. Berdasarkan catatan dari sejarawan Cina bernama Fei Hsin (1436). Sedangkan orang Cina mengenal Belitung disebabkan pada tahun 1293, pedagang-pedagang Cina tersebut masuk ke Pulau Belitung sekitar tahun 1293. Sebuah armada Cina di bawah pimpinan Shi Pi, Ike Mise dan Khau Hsing yang sedang mengadakan perjalanan ke Pulau Jawa terdampar di perairan Belitung.[1]
Selain bangsa Cina, bangsa lain yang banyak mengenal Pulau Belitung adalah bangsa Belanda. Pada tahun 1668, sebuah kapal Belanda bernama ‘Zon De Zan Loper’, di bawah pimpinan Jan De Marde, tiba di Belitung. Mereka merapat di sungai Balok, yang saat itu merupakan satu-satunya bandar di Pulau Belitung yang ramai dikunjungi pedagang asing.[1]
Berdasarkan penyerahan Tuntang pada tanggal 18 September 1821, Pulau Belitung masuk dalam wilayah kekuasaan Inggris (meskipun secara de facto terjadi pada tanggal 20 Mei 1812). Residen Inggris di Bangka, mengangkat seorang raja siak untuk memerintah Belitung karena di pulau kecil ini sering terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh tetua adat. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Kerajaan Inggris tanggal 17 April 1817, Inggris menyerahkan Belitung kepada Kerajaan Belanda. Selanjutnya atas nama Baginda Ratu Belanda, ditunjuk seorang Asisten Residen untuk menjalankan pemerintahan di Pulau Belitung.[1]
Pada tahun 1823, seorang Kapten berkebangsaan Belgia bernama JP. De La Motte, yang menjabat sebagai Asisten Residen dan juga pimpinan tentara Kerajaan Belanda, berhasil menemukan timah di pulau tersebut. Selanjutnya seusai Traktat London tahun 1850, penambangannya diambil alih oleh Billiton Maatschapij, sebuah perusahaan penambangan timah milik Pemerintah Belanda. Pada saat itu Belitung terbagi atas 6 daerah, yaitu :
Tanjungpandan dan Gantung/Lenggang yang berada langsung di bawah pemerintahan Depati;
Badau, Sijuk, Buding dan Belantu yang berada di bawah pemerintahan masing-masing Ngabehi.[2]
Pada tahun 1890, pangkat Ngabehi dihapus dan digantikan dengan Kepala Distrik. Selanjutnya terdapat 5 distrik yaitu : Tanjungpandaan, Manggar, Buding, Dendang dan Gantung. Tahun 1852 Belitung dipisahkan dari Bangka dalam urusan administrasi dan kewenangan penambangan timah. Pemisahan tersebut atas desakan JF. Louden (kepala pemerintahan pusat di Batavia), untuk mencegah pengaruh buruk dari Residen Bangka yang iri melihat pertambangan timah yang berkembang dengan pesat di Belitung. Dalam rangkaian sistem pemerintahan Hindia Belanda, pada tahun 1921 Belitung dijadikan sebuah distrik yang dikepalai oleh seorang Demang yaitu KA. Abdul Adjis, yang dibantu 2 orang Asisten Demang yang membawahi 2 onder district, yaitu Belitung Barat dan Belitung Timur. Gemeente atau kelurahan di Belitung dibentuk pada tahun 1921-1924. Berdasarkan Ordonantie No. 73 tanggal 21 Februari 1924, Belitung terbagi menjadi 42 Gemeente.[2]
Pada tahun 1933, Belitung berubah status menjadi satu Onder-afdeling yang diperintah oleh seorang Controleur dengan pangkat Assistant Resident, yang bertanggung jawab kepada Residen dari Afdeling Bangka – Belitung yang berkedudukan di Pulau Bangka. Tanggal 1 Januari 1939 berlaku peraturan baru di wilayah di wilayah Belitung, yang berarti Pulau Belitung sudah diberi hak untuk mengatur daerahnya sendiri. Tentu saja hal tersebut memengaruhi beberapa keadaan, misalnya Onder-afdeling Belitung meliputi 2 distrik yaitu, Distrik Belitung Barat dan Distrik Belitung Timur, yang masing-masing dikepalai oleh seorang Demang.[2]
Tentara Jepang menduduki Pulau Belitung pada bulan April 1944, pemerintahan dikedua distrik dikepalai oleh Gunco. Pada awal tahun 1945, Jepang membentuk Badan Kebaktian Rakyat di Belitung yang bertugas membantu pemerintahan. Masa pendudukan Jepang tidak lama, selanjutnya terjadi perubahan kembali ketika tentara Belanda kembali menguasai Belitung pada tahun 1946. Pada masa pemerintahan Belanda ini, Onder-afdeling Belitung diperintah kembali oleh Asisten Residen Bangsa Belanda, sedangkan penguasaan distrik tetap dipegang oleh seorang Demang yang kemudian diganti dengan sebutan Bestuurhoofd.[2]
Pulau Belitung sebagai bagian dari Residensi Bangka – Belitung, beberapa tahun lamanya pernah menjadi bagian dari Gewest Borneo, kemudian menjadi bagian Gewest Bangka – Belitung dan Riau. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena muncul peraturan yang mengubah Pulau Belitung menjadi Neolanchap. Selanjutnya sebagai badan pemerintahan dibentuklah Dewan Belitung pada tahun 1947. Pada waktu pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), Neolanchap Belitung merupakan negara tersendiri, bahkan karena sesuatu hal tidak menjadi negara bagian. Tahun 1950 Belitung dipisahkan dari RIS dan digabungkan dalam Republik Indonesia. Pulau Belitung menjadi sebuah kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Sumatera Selatan di bawah kekuasaan militer, karena pada waktu itu Sumatera Selatan merupakan Daerah Militer Istimewa. Sesudah berakhirnya pemerintahan militer, Belitung kembali menjadi kabupaten yang dikepalai oleh seorang Bupati.[2]
Pada awal masa kemerdekaan pulau Belitung juga menjadi tempat lahirnya sebuah organisasi mahasiswa daerah bernama IKPB (Ikatan Keluarga Pelajar Belitong) yang terbentuk di Kelapa Kampit 13 Mei 1955. Organisasi pelajar daerah ini diinisiasi oleh siswa-siswi mualimin Yogyakarta. Sebelum menjadi IKPB awalnya organisasi ini bernama KPB (Keluarga Pelajar Belitong) yang merupakan persatuan siswa mualimin asal Belitung di Yogyakarta dan IPB (Ikatan Pelajar Belitong) yang merupakan siswa-siswi SMA asal Belitong di Jakarta dan Bandung.
Pada tanggal 21 November 2000, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000, Pulau Belitung bersama dengan Pulau Bangka memekarkan diri dan membentuk satu provinsi baru dengan nama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi ini merupakan provinsi ke-31 di Indonesia. Berdasarkan aspirasi masyarakat dan berbagai pertimbangan, Kabupaten Belitung dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung beribukota di Tanjungpandan dengan cakupan wilayah meliputi 5 kecamatan dan Kabupaten Belitung Timur dengan Manggar sebagai ibukotanya dengan cakupan wilayah meliputi 4 kecamatan.[2]
Belitung memiliki salah satu jenis vegetasi yang disebut dengan hutan kerangas. Hutan kerangas adalah hutan yang tumbuh di atas pasir kuarsa yang memiiki pH rendah dan miskin nutrisi. Vegetasi yang khas pada hutan kerangas adalah sapu padang (Baeckea frutescens), ketakong/kantong semar (Nepenthes gracilis), drosera (Drosera burmanii), pelawan (Tristaniopsis obovata), ulin (Eusideroxylon zwagerii), pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan kucai padang (Fimbristylis sp.).[3] Beberapa tanaman yang hidup di hutan kerangas Belitung juga memiliki khasiat sebagai tanaman obat[4] sehingga pengrusakan yang sangat tidak bertanggung jawab oleh pelaku penambangan timah memiliki dampak yang sangat buruk bagi biodiversity dan sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Belitung, per 31 Agustus 2013, penduduk Kabupaten Belitung berjumlah 170.782 jiwa dengan komposisi 87.705 jiwa Laki-laki (51,35%) dan 83.077 jiwa perempuan (48,65%). Jumlah laki-laki di Belitung masih lebih tinggi dibanding dengan jumlah perempuan. Sex Ratio di Kabupaten Belitung adalah 105,57 yang menunjukkan terdapat 105 oranglaki-laki di antara 100 perempuan.
Jumlah penduduk Kabupaten Belitung Timur tahun 2012 sebanyak 116.356 jiwa. Hal ini menunjukkan telah terjadi penambahan jumlah penduduk dibanding tahun sebelumnya sebesar 3.041 orang atau 2,7 persen. Penduduk di Kabupaten Belitung Timur lebih banyak penduduk laki-laki dibandingkan penduduk perempuan di mana 59.913 jiwa atau 51,5 % laki-laki dan sisanya 56.443 jiwa atau 48,5 % adalah perempuan.
Tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk antar kecamatan sangat bervariasi. Hal ini disebabkan penyebaran penduduk yang tidak merata, di mana permukiman penduduk terkonsentrasi di Taniungpandan, yang merupakan ibukota Kabupaten Belitung, dengan kepadatan penduduk sebesar 258 jiwa/km2. Dilihat dari tingkat kepadatan penduduknya, Kecamatan Tanjungpandan memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi, bahkan empat kalinya dari kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua yaitu Kecamatan Sijuk. Hal ini terjadi karena Kecamatan Tanjungpandan merupakan ibukota Kabupaten Belitung serta pusat kegiatan perekonomian Belitung yang berpusat pada perdagangan, perhotelan, rumah makan dan restoran, serta pusat pendidikan.walaupun luas wilayah Tanjungpandan hanya 16,5% dari total luas Belitung.
Terjadi juga peningkatan untuk kepadatan penduduk, di Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2012 dari 45,20 jiwa per Km2 di menjadi 46,41 jiwa per Km2 penyebaran yang tidak merata. Hal ini terlihat dari masih terpusatnya penduduk di Kecamatan Manggar sebagai ibukota kabupaten dengan kepadatan hingga 106,01 jiwa per Km2, dengan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kecamatan lain yang relatif merata penyebarannya.
Etnis penduduk asli Kabupaten Belitung adalah etnisMelayu yang kemudian mengalami akulturasi dan asimilasi dengan berbagal etnis Iainnya, yaitu etnis Melayu Riau, Palembang, Bugis, Cina, Jawa, dan etnis lainnya. Kebudayaan etnis Melayu, etnis Cina, agama Islam dan kepercayaan yang dibawa oleh etnis Cina telah banyak berpengaruh terhadap pola-pola kebudayaan dan pola relasi sosial masyarakat Kabupaten Belitung.
Berdasarkan agama, penduduk Kabupaten Belitung didominasi oIeh pemeluk agama Islam yaitu sebesar 91,61%, dan pemeluk agama Iainnya adalah Budha sebanyak 6,37%, Protestan 1,02%; Katholik 0,55% dan Hindu 0,45%.
Partisipasi melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP sebesar 32,17% dan dari SMP ke SMU sebesar 70,36%. Artinya jumlah anak sekolah yang masuk ke sekolah lanjutan pertama perlu peningkatan.Sedangkan dari lanjutan pertama ke sekolah menengah umum mencapai 70%. Partisipasi masyarakat yang menyelesaikan pendidikan di Belitung 8,26% (rata-rata 343 orang per tahun). Dengan demikian tingkat partisipasi penduduk sekolah dasar cukup tinggi, tetapi jumlah yang melanjutkan ke SMP hanya 32,17%, tetapi SMP-SMU mencapai 70%. Sementara itu jumlah sekolah tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
Salah satu faktor pendukung keberhasilan pembangunan adalah adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui Jalur pendidikan, pemerintah berupaya untuk menghasilkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), wajib belajar 6 tahun yang dilanjutkan wajib belajar 9 tahun, UUD 1945 beserta amendemennya (pasal 31 ayat 2) serta program pendidikan lainnya adalah bentuk upaya pemerintah dalam rangka menciptakan sumber daya manusia tangguh yang siap bersaing pada era globalisasi. Peningkatan sumber daya manusia sekarang ini lebih diutamakan dengan memberikan kesempatan kepada penduduk untuk mendapatkan pendidikan yang seluas-luasnya, terutama penduduk pada kelompok umur 7-24 tahun yang merupakan kelompok usia sekolah.
Berdasarkan data Belitung Dalam Angka 2012, angkatan kerja di Kabupaten Belitung pada tahun 2011 berjumlah 2.798 jiwa yang terdiri dari 242 jiwa (8,65%) sudah ditempatkan dan 2.556 jiwa (91,35%) belum ditempatkan. Apabila dikelompokkan menurut tingkat pendidikan jumlah terbesar penduduk pencari kerja di Kabupaten Belitung adalah tamatan SLTA yaitu sebesar 67,44%. Tabel berikut memperlihatkan data angkatan kerja ini.Sektor pertanian dan perkebunan, termasuk perikanan, masih merupakan sektor kedua yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Belitung. Hal ini mungkin disebabkan karena seringkali untuk masuk ke dalam sektor ini tidak memerlukan persyaratan tertentu. Sedangkan lapangan pekerjaan lain yang memerlukan tenaga kerja ahli saat ini dikaitkan kondisi SDM Kabupaten Belitung yang ada. Secara lebih mendetail, berikut ini adalah komposisi penduduk Kabupaten Belitung menurut mata pencahariannya. 22,67% masyarakat Belitung belum/tidak bekerja, dan 24,74% masyarakat Belitung adalah ibu rumah tangga. Sementara komposisi pekerjaan terbesar berikutnya adalah sabagai pelajar/mahasiswa sebanyak 17,72%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tiga program terkait tersebut belum menjadi sektor penggiat ekonomi daerah yang didukung penuh oleh ketertarikan penduduk Kabupaten Belitung sebagai mata pencahariannya.Oleh karena itu, perlu diciptakan strategi yang tepat agar penduduk berminat untuk bekerja dan mengembangkan ke tiga program prioritas tersebut, sehingga kesiapan SDM Kabupaten Belitung untuk berkiprah lebih banyak.dan lebih berkualitas terhadap trilogi program pambangunan Kabupaten Belitung dapat dipenuhi.
Peluang pemenuhan saat ini masih sangat terbuka mengingat masih banyak penduduk usia produktif. Penduduk usia produktif masih bisa dikelompokkan ke dalam (i) kelompok yang sedang menunggu pekerjaan, masih sekolah dan ibu rumah tangga, (ii) kelompok yang bekerja di bawah standard minimum, dan (iii) kelompok yang tidak bekerja.
Kualitas SDM sangat penting untuk ditingkatkan.mengingat persaingan tenaga kerja yang skilled labor akan sangat mencantumkan apakah masyarakat Belitung dapat tinggal landas bersama tiga sektor prioritas. Secara diagram dapat diiihat hubungan pentingnya pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Belitung.
Dari realitas keragaman perekonomian di Kabupaten Belitung yang didominasi oleh sektor ekonomi yang bersifat ekstraktif [(perikanan Laut dan pertambangan) dan sektor perkebunan], kemudian loncat ke sektor perdagangan (ekspor kaolin,timah, Crude Palm Oil (CPO)), maka kualitas SDM di Kabupaten Belitung masih perlu terus ditingkatkan untuk mengembangkan tiga program prioritas yaitu : Perikanan dan Kelautan [Perikanan Tangkap Modern, Perikanan Budi Daya Perairan]; Pariwisata, dan Kepelabuhanan.
Upah Minimum Kabupaten (UMK) Belitung pada tahun 2011 adalah sebesar Rp1.219.000,- naik sebesar 15% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp1.060.000,-.
Batu Mentas yang berada di kaki gunung tajam, memiliki potensi yang luar biasa sebagai sebuah destinasi wisata terpadu. Keindahan alam baik sungainya yang jernih maupun hutannya yang masih lebat, keunikan flora dan fauna, kehidupan masyarakat lokal dengan sentra kebun nenas dan ladanya, ditambah dengan keunikan seni budaya tradisionalnya serta keahlian masyarakatnya membuat kerajinan anyaman serta rotan, merupakan potensi yang jika dikelola dengan baik akan memberikan dampak positif yang luar biasa baik untuk lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Batu Mentas hanya berjarak 20 menit waktu tempuh dari kota Tanjungpandan.
Pada Maret 2012 lalu telah dilakukan Soft Launching oleh KPLB[5] (Kelompok Peduli Lingkungan Belitung) bersama GEF [6](Global Environment Program) untuk “Sanctuary Tarsius dan Wisata Alam Batu Mentas.” Dalam perjalanannya, berbagai aktivitas pengayaan terus dilakukan untuk menuju sebuah cita-cita besar yaitu menjadikan Batu Mentas sebagai “Wild Life Sanctuary.” Wild life sanctuary merupakan taman suaka bukan hanya untuk Tarsius Bancanus Saltator (atau dalam bahasa local Belitung dikenal dengan “pelilean”), namun juga berbagai flora dan fauna yang sudah terancam punah dan langka seperti Pelanduk, Burung Siaw, Tupai Kelaras, serta tanaman hutan seperti Nibong Palay, Simpor Laki, Pelawan, Rukam, Sisilan, dll. Harapan ini merupakan dorongan peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat khususnya yang berada disekitar lokasi Batu Mentas dan umumnya untuk menambah variasi dan kualitas desitinasi wisata Belitung. Berbagai fasilitas yang ada di Batu Mentas sekarang ini yaitu Outbond Area, Penangkaran Tarsius Bancanus Saltator, Pemandian alam yang natural, wisata Tubing, Jungle Treking, Restoran dengan konsep makan “bedulang” dan Penginapan Safari Tend dan Tree House.
Pariwisata di Belitung mulai tumbuh pada awal 2000an,sekarang pariwisata Belitung mulai mengalami peningkatan yang pesat sejak Boomingnya Film Laskar Pelangi pada tahun 2008,Destinasi wisata di Belitung seperti Gantung,Pantai Tanjung Tinggi,Tanjung Kelayang,Dan Pulau Lengkuas mulai dikenali oleh wisatawan,Dan dengan ditetapkannya Pantai Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus(KEK) Serta ditetapkannya Pulau Belitung Sebagai Geopark Nasional semakin mendukung Kegiatan Pariwisata di Pulau Belitung.
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta berdiri tahun 2001 dengan nama waktu itu AKADEMI PARIWISATA AMBARRUKMO (AKPRAM) Yogyakarta. Saat itu AKPRAM mempunyai program studi tunggal yaitu Program Studi Perhotelan, dengan jurusam Perhotelan UNTUK JENJANG diploma tiga (D-3).
Tahun 2004, AKPRAM telah memperoleh Akreditasi dari BAN-PT dengan nilai B dan seiring dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Indonesia maka pada awal tahun 2008, pariwisata telah di syahkan pemerintah sebagai suatu KEILMUAN dan tidak menebeng pada rumpun ilmu yang lain.
Maka pada tahun 2008, AKPRAM meningkat status menjadi SEKOLAH TINGGI PARIWISATA AMBARRUKMO (STIPRAM) dengan menambanh program studi Hospitality jurusan Hospitality untuk jenjang STRATA-SATU (S1). Seiring dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap STIPRAM, maka Akreditasipun meningkat menjadi A baik untuk program studi Perhotelan maupun Hospitality/ Pariwisata.
Dan pada tahun 2015, STIPRAM telah memperoleh Akreditasi Institusi dari BAN-PT dengan nilai B dan pada tahun 2016 STIPRAM kembali diberi kepercayaan mengelola program Studi Pasca Sarjana (S-2) program Studi Pariwisata.
PROGRAM STUDI :
Program Studi Perhotelan : jurusan Perhotelan : jenjang D-3
Program Studi Hospitality/Pariwisata : jurusan Hospitality/Pariwisata : jenjang S-1
Program Studi Pariwisata : jurusan Pariwisata : jenjang S-2
SISTEM PEMBELAJARAN :
Program D3 Perhotelan : 70% praktik dan 30% teori
Program S1 Hospitality/Pariwisata : 40% praktik dan 60% teori
Progam S2 Pariwisata : konsentrasi MICE dengan didukung sebuah Auditorium yang sangat representatif.
KONTAK STIPRAM
Jl. Ahmad Yani, Ring Road Timur 52, Modalan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta